Minggu, 28 Juli 2013

Warta GKI Pos Kapuk Muara Minggu, 04 Agustus 2013


WARTA POS KAPUK MUARA
Jl. Kapuk Raya, Jl. Swadaya I/33, Jakarta Utara 14460
Penghubung : Pnt. Mariani Ho In Jusuf (Fafa)-5542242/R, 0812. 8220989/HP

I.PERSEKUTUAN :
          1. Kebaktian Umum           : Hari Minggu Pkl. 10.30 WIB
                                                  Pengkotbah Tgl. 04 Agustus 2013 :Ny. Anny Gosana
Petugas
04 Agustus 2013
Primus
Pnt. Darmawan
Pembaca Warta
Pnt. Kuntring
Liturgos
Bpk. Jannes Sianipar
Bacaan I
Ibu Ifana
Mazmur
Ibu Maria
Bacaan II
Pnt. Darmawan
P. Iman Rasuli
Pnt. Maya
Persembahan
Pnt. Niran Raphi
Organis
Fafa/Ferdian
Pendamping Ramaja
Pnt. Maya
Pend PA/Persekutuan
Pnt. Darmawan
          NB :    -Tugas Pendamping katekisasi & pemahamaman alikitab (PA) pkl. 18.30 WIB
                    -Tugas Pendamping Remaja tiap minggu pagi pkl. 09.00 WIB
                    -Majelis & Lektor yang bertugas diharapkan berpakaian rapi & sopan.
                   1. Wanita : atas pakaian sopan, bawah memakai rok yang sopan/bukan jeans.
                   2. Pria      : atas kemeja, bawah celana panjang kain yang sopan/bukan jeans.
                    -Liturgos diharapkan hadir 30 menit sebelum ibadah dimulai untuk latihan
                     dengan organis.
          2.Sekolah Minggu               : Minggu Pkl. 10.30 WIB
          3.Pemuda/Remaja             : Minggu Pkl. 09.00 WIB
Tgl
Tema
Pengkotbah
04-08
Akar Kekerasan (1 Samuel 18 : 6-11)
Sdri. Adyana Winny Malo
II. KEANGGOTAAN :
          Doa Syafaat : Jemaat yang ingin menyampaikan doa harap memberitahukan
III. Kehadiran Jemaat GKI Kwitang Pos Kapuk Minggu, 21 Juli 2013 :
*)Keb Umum                   :Pnt :4, Pria :12, Wanita:33, Anak:2:51 orang
*)Remaja/Pemuda          :Pnt : 1, Pria : 5, Wanita :9, Anak: -:15 orang

Ibadah Yang Murni dan Tak Bercacat di Hadapan Allah

Ibadah Yang Murni dan Tak Bercacat di Hadapan Allah

Bacaan: Yakobus 1: 27
Jumpa lagi dengan aku, Si Penjelajah waktu! Inilah pengalaman penjelajahanku yang lain lagi.  Dalam penjelajahanku menembus waktu antara tahun 782-753 SM saat Yorebeam menjadi raja Israel dan tahun 767-740 SM saat Uzia menjadi raja di Yehuda, aku berjumpa dengan Amos, seorang nabi yang melayani pada masa itu. Menurut Amos, rakyat hidup dalam kemewahan, kesenangan, dan kepuasan jasmani.Namun demikian semuanya itu adalah semu. Sebab masih banyak terjadi ketidakadilan terhadap yang miskin, tanah dikuasai oleh kelompok-kelompok tertentu, hakim-hakim tidak menjalankan fungsinya dengan baik, pemerasan terhadap orang-orang miskin dll. Sehingga penyelenggaraan ibadah pada waktu itu hanya menjadi topeng penutup kebobrokan semata. Ada kata-kata keras Amos yang aku ingat, yaitu: “Tuhan membenci dan menginakan perayaanmu, Tuhan tidak senang terhadap perkumpulan rayamu… Jauhkanlah dari pada Tuhan, keramaian nyanyian-nyanyianmu, Tuhan tidak mau mendengar lagu gambusmu.” (bdk. Amos 5:21,23).
Mendengar perkataan Amos tersebut, aku diam dan berusaha mencerna perkataannya itu. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa jika ibadah dan nyanyian-nyanyian ibadah tidak diikuti dengan motivasi yang tulus - alias hanya menjadi topeng, maka itu adalah kekejian di mata Tuhan. Kadang aku merasa miris, karena ada orang-orang Kristen yang mempersiapkan dan menyelenggarakan ibadah raya dengan sungguh amat baik, namun hanya berhenti di sana dan tidak berlanjut di dalam kehidupan. Bahkan ada juga pelayan yang hanya ingin ditonton saat “melayani” atau disanjung setelah “tampil” melayani. Seringkali kritikan justru menjadikan mereka marah, kecewa dan akhirnya mundur (bhs jw. mutung)!
Aku jadi teringat dengan nasehat Rasul Paulus yang mengatakan bahwa ibadah yang sejati adalah persembahan hidup (bdk. Roma 12:1), artinya ibadah berlanjut secara nyata di dalam kehidupan. Musik dan nyanyian tidak hanya dimainkan dan dilagukan di dalam gedung gereja, namun berlanjut menjadi sebuah orchestra kehidupan yang dapat dilihat, didengar dan dinikmati oleh banyak orang disekitar kita. Oleh karena itu, seiring dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Amos dan Rasul Paulus, Yakobus mengingatkan kita sekali lagi, Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yak. 1:27). Ibadah dan nyanyian kita mesti menjadi “Ad Majorem Dei Gloriam” (Untuk Keagungan Allah Yang Lebih Besar). Selamat berjuang! (GJS)
Foto : Kairos Imaging